MENULIS DI KOTAK-WASIAT

Setiap dari kita seharusnya memiliki surat wasiat. Wasiat apa saja yang akan disampaikan untuk kehidupan ini. Wasiat kepada anak-anak cucu kita, kepada orang lain. Menulis wasiat adalah sesuatu yang berharga untuk kehidupan ini. Banyak dari kita telah menulis wasiat, karena mereka memahami bahwa usia mereka cukup terbatas. Dengan menulis wasiat, berarti mereka telah memperpanjang usia mereka. Meski tubuh mereka berada di alam kubur, namun ide-ide mereka tetap hidup. Apalagi wasiat mereka berguna sebagai nasehat yang ikut memperbaiki kehidupan kemanusiaan yang semakin hari nilainya semakin bergeser dan pudar. Mereka mungkin telah di alam kubur, namun mereka tetap menerima amal jariah, karena nasihat-nasihatnya. Investasikanlah nasehat Anda untuk kehidupan ini dan petiklah amalannya di akhirat. Karena itu, menulislah surat wasiat di mana saja, termasuk di kotak-wasiat ini. Tulisalah wasiat dan nasihat-nasihat Anda. Toh, tidak ada salahnya menulis nasehat, yang kelak juga menjadi sejarah dan catatan buat Anda sebagai penulis wasiat. Jika ingin mengirim tulisan wasiat, silahkan kirim ke ishakmakassar@yahoo.com Mungkin kami akan mengedit redaksinya. Mari berwasiat untuk kehidupan ini. Wassalam.


Nafsumu Penghalang Cinta

Nafsumu Sumber Penghalang Cinta Sucimu

WAHAI para pencinta, nafsu adalah sumber penghalang utama menuju cinta sejati. Ia selalu membisikkanmu rasa ketakutan akan kehilangan kekasih. Ketika engkau di puncak kecintaan pada kekasihmu, ia pun membisikkan, bahwa dengan menyerahkan permata dirimu, engkau akan mendapatkan kekasih yang engkau cintai.

Tapi bisikan dari nafsu itu sebenarnya hanyalah tipuan semata. Di saat engkau menyerahkannya, maka engkau akan kehilangan kekasihmu. Harga dirimu di depan kekasihmu jatuh bahkan engkau terpandang hina. Engkau pun sangat berharap padanya. Di saat kau tumpahkan harapanmu kepadanya, itulah awal dari perbudakan dirimu. Engkau menjadi bola mainnya sesuai keinginannya.

Karena itu, ingat-ingatlah selalu wahai mereka yang dilanda asmara. Jangan pernah takut kehilangan kekasihmu hanya karena mempertahankan permata dirimu. Sebab di sanalah rahasia pesona dan kecantikanmu. Mempertahankan permata diri sebenarnya ujian cinta bagi kesetiaan kekasihmu. Hanya kekasih tak setia yang meninggalkan kekasihnya karena birahinya tak dituruti.

Yakinlah, bahwa semakin engkau menjaga permata dirimu dan dirinya, maka ikatan cinta terhadap dirimu pun akan melekat. Rasa kagum dan bangga untuk saling memiliki semakin erat. Hubungan makin langgeng, karena nilai cinta yang kau miliki bukanlah barang murahan.

Bila engkau belum mampu menaklukkan godaan itu, ingatlah, bahwa dirimu dan dirinya adalah bagian kehormatan keluargamu. Ingatlah kehormatan diri, keluarga disaat nafsu datang menggoda. Karena akibat terbuai nafsumu, kehormatan keluargamu juga terkena aib dan membawa beban penderitaan baginya.

Camkanlah, bahwa asmara itu tampak indah di pikiran dan nikmat dari bisikan jiwa. Namun, hati-hatilah, sebab keindahan di pikiran bisa menyeretmu dalam kehancuran realitas. Karena itu, jangan percaya sepenuhnya bisikan keindahan dan janji asmara cinta itu.

Nikmatnya bercinta bukan pada pelampiasan nafsu, tetapi bagaimana mengekang nafsu. Bla engkau mampu lewati semua itu, maka engkau akan meraih yang lebih nikmat dari kenikmatan impian cinta itu sendiri.

Ada suatu kata bijak yang perlu direnungkan.

Wanita menyerahkan tubuhnya untuk meraih cinta, sementara lelaki mencintai untuk memuaskan nafsunya.

Ungkapan bijak itu kelihatan kontradiktif yang tidak sepenuhnya dibenarkan oleh mereka yang bercinta. Namun juga tidak terbantahkan. Karena masing-masing kisah asmara membuktikan ungkapan itu di realitas.

Karena itu, jika percintaan yang kau jalani lebih mengarah kemaksiatan, bahkan sekalipun engkau telah terjebak jauh dalam wilayah maksiat, lebih baik segera bersikap, tinggalkan kekasihmu, lalu tobatlah segera. Karena cinta bukan lagi cinta tapi pelampiasan nafsu yang terselubung atas nama cinta. (Makassar)



Read more...

Nikmatnya Bercinta

Ingat-ingatlah selalu, jangan pernah
takut kehilangan kekasihmu hanya
karena mempertahankan permata dirimu!

CINTA dan nafsu setipis daun bawang. Bila pada saatnya jiwamu terpanggil memadu asmara, maka hati-hatilah. Jangan serahkan segala milikmu. Apalagi mengorbankan permata dirimu. Sekalipun kekasihmu itu menyatakan sangat mencintaimu.

Belajarlah dari berita kehidupan sebelum melangkah dalam dunia asmara. Di sana ada impian, harapan juga cinta suci. Tapi jalan ke sana penuh kerikil, lumpur dan godaan. Tidak semua pecinta mendapatkan apa yang mereka impikan.

Kehidupan sudah mengisahkan ribuan duka yang tercecer. Di sana juga menceritakan tragedi tercampaknya para pecintanya ke lumpur kehidupan. Mereka adalah deretan para korban tentang keinginan meraih cinta suci, namun kandas karena tergoda merasakan kenikmatan yang terlarang.

Sebelum melangkah, mantapkanlah keyakinanmu. Mohon perlindunganmu pada tuhanmu. Di dunia asmara, permata dirimu adalah sasaran godaan nafsu. Nafsumu selalu mengilhamimu bisikan keindahan dan kenikmatan agar engkau tergelincir dan kandas meraih cinta sejati. Sementara malaikat selalu mengilhamimu bahkan mengingatkanmu, agar engkau tidak melupakan perjalanan cintamu kepada sang pencinta sejati.

Dalam kehidupanmu, bila engkau kehilangan harta itu bukanlah malapetaka besar. Engkau masih bisa mengumpulkan harta. Dirimu pun tidak dihinakan hanya karena kekurangan harta. Tetapi bila permata pada dirimu terengut, maka sesungguhnya itulah malapetaka besar bagi diri dan kehidupanmu.

Kesucian dirimu ternoda. Kecantikan batinmu pudar. Tubuhmu tidak lagi memancarkan aura kesucian. Kecantikanmu yang tersisa hanya sebatas polesan di kulit dan lekuk-lekuk tubuhmu yang selalu menggoda.

Engkau akan tetap membawa aib itu kemana dan di manapun engkau berada. Engkau tak mungkin mampu menyembunyikan aib itu pada dirimu sendiri. Dokter ahli juga tak mungkin mengembalikan permata dirimu. Sebab permata itu bukanlah pemberian manusia. Ia anugerah langsung dari tuhanmu, yang seharusnya engkau menjaga kesuciannya.

Sifat malumu mulai terkikis. Nafsumu selalu membisikkan keterlanjuran, agar engkau lebih dalam lagi terperosok dan tak mampu keluar dari jeratannya. Bila engkau terperosok semakin dalam, maka engkau semakin sulit keluar melalui tobatmu. Sedikit demi sedikit keberanianmu muncul yang mengikis rasa malumu. Engkau semakin berani mempertontonkan auratmu. Dirimu telah menjadi boneka nafsu untuk mempengaruhi calon korban berikutnya.

Engkau dipuji sekaligus tersanjung. Engkau pun mulai tak sadar, bahwa engkau ikut menebar pesona maksiat di sekelilingmu. Engkau bangga karena menjadi pusat perhatian. Engkau disanjung dan tertawa-tawa senang di tengah keramaian. Namun ketika engkau sendiri, batinmu menangis, sebab ia tak menginginkan kehidupan tubuhmu seperti itu. Ia selalu menasihatimu, tetapi engkau tak mau mendengar nasihatnya. Padahal itu demi kebaikan dirimu.

Read more...

Petuah Sebelum Pernikahan dan Setelah Berkeluarga

Petuah ini penting sebagai persiapan bagi mereka yang akan memasuki jenjang pernikahan. Jadi sebaiknya Anda baca petuah ini.

Tujuan pernikahan mewujudkan keluarga bahagia. Ingat tujuan dasar ini. Keluarga bahagia tercipta karena hubungan harmonis. Hubungan harmonis dicapai melalui :

Adanya saling pengertian.
Keduanya harus saling memahami dan mengerti keadaan masing-masing baik fisik maupun mental. Artinya, memahami perbedaan sifat, tingkah laku dan pandangan. Jadi perbedaan itu wajar saja. Bukankah yang menyatukan Anda karena perbedaan juga. Ya perbedaan jenis kelamin Anda..he..he.
Saling menerima kenyataan
Kita harus menerima kenyataan dengan tulus dan ihlas bahwa jodoh itu memang di bawah kekuasaan Allah. Ingat pepatah, tidak selamanya cinta menyatukan kita. Maka jalanilah bersama dengan pasangan Anda. Ya, jika tidak berpacaran sebelumnya sebelum menikah, maka pacaranlah sesudah menikah. Lebih romantis kan…
Saling melakukan penyesuaian
Pernah baca di shvoong berjudul Wasiat Terakhirku? Ingat tidak ada yang sempurna, bahwa kita ini berbeda dan saling memiliki kekurangan. Yang perlu dilakukan bagaimana menyesuaian setiap dari perbedaan.
Memupuk rasa cinta
Jangan terbalik ya. Kebencian yang dipupuk. Akhirnya mengendap dalam pikiran. Ingat salah satu tulisan saya sebelumnya menjelaskan pikiran mempengaruhi tindakan. Tindakan kita akan mengarah pada apa yang kita pikirankan apakah itu negative atau positif. Maka setiap muncul pikiran negatif terhadap pasangan Anda berusalah melawan dengan mengingat kebaikannya. Jadi saling memupuk rasa cinta, bukan sebaliknya memupuk pikiran dan kalimat negatif di pikiran hingga terbawa kealam bawah sadar
Melaksanakan asas musyawarah
Ini menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah yang timbul. Ingat jangan ego dan ngotot merasa benar sendiri. Salah-salah eh malah saling menyalahkan dan menghakimi. Jika ini terjadi kembali ke pasal sebelumnya. Yaitu ingat tujuan pernikahan Anda. he…
Suka Memaafkan
Jangan masalah kecil dibesar-besarkan. Bukan masalah dijadikan masalah. Karena itu, kalau ada kesalahan kecil, ya saling memaafkanlah, karena tidak mungkin Anda tidak membuat kesalahan sepanjang menjalani kehidupan bersama. Kalau tidak mau mendapat pasangan yang memiliki kesalahan, menikalah dengan malaikat, yang diciptakan memang untuk patuh..he..he...
Berperan serta untuk kemajuan bersama
Masing-masing suami istri berusaha saling membantu setiap usaha untuk kemajuan bersama.

Nah, jika memasuki kehidupan rumah tangga, beberapa yang perlu dicegah diantaranya :

- Janganlah membuka rahasia pribadi istri atau suami dan rahasia keluarganya
- Cemburu yang berlebihan. Sikap cemburu sih tandanya masih adanya cinta. Tapi jika berlebihan dan tanpa dasar juga merusak hubungan keharmonisan. Eh, soal cemburu ini, ada istilah penulis : cemburulah kepadaku maka aku akan mengukur seberapa dalam cintamu..
- Mengulangi cerita lama/nostalgia pribadi masa lalu
- Suka mencela kekurangan suami atau istri
- Memuji wanita atau pria lain di hadapan istri atau suami
- Kurang peka terhadap hal-hal yang tidak disenangi oleh suami atau istri.
- Tambah sendiri ya….


Sumber Bacaan : Membina Keluarga Bahagia, Wasiat Terakhirku.

Read more...

Taman Ilmu

By. M. Ishak Zainal

ALANGKAH indahnya jika kampus itu diibarakan sebagai sebuah taman ilmu. Sebuah taman yang dihuni manusia-manusia beradab dan berakal sehat. Yang menjadikan akal budi sebagai pijakan, dan produk pikirannya menghias dan menaburi sisi kemanusiaan dan pengembangan ilmu pengetahuan di sekitarnya. Sebuah taman tempat orang untuk bebas mengeruk pengetahuan dan mengais-ngais kebenaran yang terpendam denga melahirkan karya-karya baru.

Betapa sejuknya taman itu, bila salam perdamaian dan kreativitas bertaburan menyambut kedatangan mahasiswa baru. Mereka melindungi mahasiswa baru dari cemaran pikiran dan pola laku yang terformat. Mereka membersihkan sampah-sampah pikiran yang telah diisi dengan persepsi-persip keliru.

Semakin sejuknya taman ilmu itu, bila mereka yang bersilang pendapat menjadikan pengertian dan pemahaman sebagai alat perekat mereka. Alangkah hikmahnya, bila setiap persoalan ditempatkan sesuai duduk persoalannya, dan setiap sengketa pribadi diselesaikan dengan renungan, ketajaman pikiran, silaturrahmi agar tidak terhadap keharmonisan taman itu.
***
Tapi bagaimana menumbuhkan dan melahirkan sosok yang mampu menyelesaikan masalah? Gilbert Highet memiliki jawaban:

Mereka –para pemikir besar- tidak tumbuh seperti pepohonan. Mereka tidak dimuliakan seperti hewan-hewan pilihan. Namun ada dua cara memupuk mereka selagi tumbuh; berilah mereka tantangan dan rangsangan. Letakkan masalah-masalah di hadapan mereka. Hasilkan sesuatu untuk dipikirkan oleh mereka. Diskusikan tiap tahap pemikiran mereka. Usulkan kepada mereka untuk melakukan percobaan. Minta mereka mengungkapkan apa-apa yang tersembunyi. Lalu anjurkan mereka agar mengenal pemikiran-pemikiran yang menonjol. Itulah tawaran kiatnya.
***
Alangkah disegeninya sebuah taman ilmu itu, bila penghuni taman itu tidak saja melahirkan intelektual-intelektual muda, tetapi pemuda-pemuda yang berteriak garang terhadap para penjarah negeri, terhadap para penjarah hak-hak rakyat, seperti prajurit-prajurit muda yang mengibarkan bendera perang terhadap para koruptor.

Alangkah bangganya mereka yang menempatkan anak-anaknya di taman ilmu itu, karena mereka dapat menjadi penyambung lidah dan pelapis dada ketika kesewenang-wenangan merajalela.

Sungguh, mereka begitu bangga, namun kebanggan itu kini hanya milik impian saja. (Identitas, Juli 1999)

Read more...

Kambing Hitam

By. M. Ishak Zainal

TERNYATA kita kadang kehilangan nilai kemanusiaan. Kita sendiri menggali lubang lalu menceburkan diri ke lembah nista. Kita membangun pondasi diri dalam kebiasaan, selanjutnya membentuk karakter kita. Kemanusiaan pun kita surut, namun jarang kita rasakan, sebab kita kadang hanya berbicara berdasarkan muatan kepentingan egoisme kita semata. Sumber penyabab semuat itu ternyata adalah jabatan politis yang selalu saja kita incar. Kita menjadikan jabatan politis, jabatan public seakan adalah menjadi milik kita.

Kita melupakan, bahwa justru itulah yangmenghisap nilai-nilai kebahagiaan kita di sekeliling kita, yang menimbulkan keresahan dan petaka hidup. Ketika jabatan politis telah kita rengkuh, ia memusat lalu menjadi milik pribadi bahkan hanya milik keluarga. Bahkan kita membangun dinasti dan jaringan laba-laba kekuasaan.

Khalil Gibran pernah bertanya tentang itu. “Apakah engkau ahli politik yang berkata dalam hati: Aku akan memanfaatkan negaraku bagi kepentinganku sendiri? Jika demikian, engkau adalah benalu yang hidup pada daging orang lain.

Memang, jabatan politis adalah salah satu pilihan dalam peta sandiwara dan catur politik kita keseharian. Namun, daya magnet jabatan itu telah menghisap egoisme pribadi hingga melupakan sisi yang mendasar dalam hidup, bahwa kita dianugerahkan nilai-nilai kemanusiaan bahkan sifat kenabian. Namun, kita pun kadang menepis semua itu karena telah beralih ke dotrin-dotrin politik. Dunia politik adalah dunia kotor. Memangsa atau dimangsa dalam pilihan politik. Bertahan dari jabatan dan menyerang lawan adalah pertahanan terbaik.

Kita pun segera berusaha menjaga jabatan politis kita nama baik. Bahkan dengan ketidakmampuan kita, kita melepaskan dengan mencari tumbal. Tumbal itulah bernama Kambing Hitam.

Dengan mudah pula, kita membalik kenyataan. Kita mencari kambing hitam dan memeliharanya dalam catur politik kita sebagai biang keladi.
***
Di lembaga universitas, kita mengajar agar yang dididik patuh, selalu menjaga etika. Kita menasihati agar selalu menghargai. Segudang nasihat dan petuah telontar di bibir kita. Namun di alam realitas, kita membalik realitas itu, tidak membumikan kata-kata kita dalam keteladanan.

Mungkin inilah yang disebut kemunafikan. Tapi adakah kosa kata kemunafikan dalam panggung politik kita. Apalagi para politikus-politikus ikut mencemari dunia kampus? Kita pasti menjawab itu adalah strategi, bukan kemunifikan, kemunafikan hanya ada pada agama. (Identitas November 1996)

Read more...

Demonstrasi Itu Tutup Jalan Ya?

By M. Ishak Zainal

SEJUMLAH mahasiswa menutup jalan. Mereka memalang kendaraan mereka tepat di tengah jalan. Mereka pun membakar ban-ban bekas. Gumpalan asap membubung. Kendaraan umum tak bisa lewat di tengah panasnya sengatan matahari. Para mahasiswa dengan semangat berapi-api meneriakkan protes. Mereka dengan fasihnya berpidato tentang kesewenang-wenangan para penguasa.

Rakyat bukannya bangga, atau ikut mendukung. Malah mereka mengeluhkan sikap segolongan yang mengaku intelektual muda. Bahkan ada yang mengumpat habis. Mengapa? Di deretan penumpang itu, ternyada ada Pasien yang butuh pertolongan darurat. Mereka butuh perawatan di unit gawat darurat (UGD), sementara yang lainnya terpaksa berjalan kaki berkilometer, yang lainnya harus bersabar karena terlambat menuju bandara.

Apakah mereka yang menutup jalan itu tengah demonstrasi atau melakukan penindasan baru? Pasalnya, nyaris setiap berdemontrasi dengan mengusung isu lokal, mereka menutup jalan, penindasan pun makin berlapis, ditindas para penguasa, selanjutnya ditindas lagi para penentang kekuasaan.

Pada awalnya, kita memaklumi bahwa dengan tutup jalan adalah upaya menarik perhatian publik. Namum belakangan, gerakan tutup jalan ini menjadi sebuah kebiasaan malah menjadi tradisi buruk bagi gerakan demonstrasi. Ini menjadi persoalan kemudian, karena seakan intelektual muda itu kehabisan daya pikat, kreasi atau ide-ide brillian untuk menarik perhatian publik.

Di sinilah tampaknya kita perlu mempertegas kembali pemahaman tentang demonstrasi. Demonstrasi itu adalah salah satu cara, metode, sarana bukan tujuan. Banyak cara untuk mencapai tujuang.

Kadang di tengah seminar serius para pejabat, sekelompok mahasiswa diam-diam membentangkan spanduk protes secara tiba-tiba. Kadang-kadang harus berulah untuk menarik perhatian para pencari berita. Bahkan berbagai aktraksi terpaksa mereka lakonkan untuk mendapat perhatian serius. Jadi tutup jalan itu bukannya solusi, tetapi menjadi polusi dalam gerakan. Kecuali isu yanga diemban itu berskala penting dan berskala besar, tentu tak ada jalan lain kecuali harus tutup jalan, demi menarik perhatian dan dukungan rakyat.

Kesalahan memilih cara aksi kadang tidak mencapai tujuan demonstrasi itu. Niat dan tujuan baik, tetapi aksi yang dilakukan justru bertentangan dengan kepentingan umum, bukannya mendapat dukungan, malah mendapat cemohan.

Karena itulah, untuk menyuarakan suara rakyat, tidak harus dengan cara mengorbankan rakyat. Kita tidak ingin berpidato berapi-api, dengan tangan dikepal, mata merah penuh semangat, sementara rakyat buang muka lalu mengumpat kita diam-diam, karena tidak senang dengan cara kita. (Harian Fajar, 11 Juni 2001)

Read more...

Dunia Kaum Demonstran

By M. Ishak Zainal

DI maza penjajahan kolonealisme Belanda, seorang pejabat Belanda pernah berpesan kepada seorang pimpinan perguruan tinggi (rektor), agar anak-anak muda pembangkang segera dipecat dari dunia kemahasiswaan. Tapi Rektor tidak melayani paket pesanan itu seperti masa kini. Mereka malah berpesan untuk melindungi anak-anak muda yang dianggap para pemberontak itu.

“Jagalah anak-anak muda pemberontak itu, karena kelak merekalah yang akan memimpin dan mengatur bangsanya.” Anak muda pembangkang itu adalah Soekarno beserta kawan-kawannya.

Cerita di atas sebuah pengalan dari cerita anak muda-mahasiswa yang resah atas tekanan penguasa. Mereka resah, karena kaum aktivis diperlakukan bagai hidup di bukan negerinya, ditikam diculik bahkan dibunuh.
***
Anak-anak muda memang perlu dijaga, termasuk menjaga kemurnian idealismenya. Di sini membutuhkan kearifan dalam menuntun mereka dalam pencarian kebenaran kenyataan. Mereka membutuhkan saluran ketika diperhadapkan antara kebenaran dalam pikiran dan kebenaran berdasarkan kenyataan. Karena saluran idealisme yang terpasung kelak akan berujung, frustasi atau menumbuhkan sikap radikalisme dalam gerakan.
***
Di dunia kemahasiswaan, kerap melintas sejumlah mahasiswa menyalurkan aspirasinya melalui aksi demontrasi. Kita menyaksikan betapa mereka penuh semangat menerikkan keresahan. Bahkan tak jarang kita kagum terhadap mereka tentang kecemerlangan intelektualnya yang mendobrak opini public. Mereka mampu merekonstruksi realitas lain yang telah terisi iklan-iklan politik dan sejumlah konflik kepentingan. Kita dihentakkan oleh mereka dengan cara memikat dan merebut perhatian publik dalam mengungkap kenyataan-kenyataan yang selama ini mungkin kita sepelekan.

Dunia kaum demonstran memang adalah dunia yang meraih kegembiraan yang begitu mahal. Dunia yang begitu pelik dan penuh resiko. Dunia yang menimbulkan rasa perih, ketika menemukan berbagai kenyataan yang absurb dari harapan yang selalu dijanjikan.

Itu pula sebabnya, dunia kaum demontran adalah dunia yang begitu konflik dan teramat susah ditebak. Mereka selalu saja merefleksikan keresahannya yang senantiasa kita atur dengan kontrol yang begitu serba ketat.

Dunia demontran mungkin panggilan hidup untuk meneriakkan keresahannya di jalan-jalan. Ketika dialog dan seminar bukan sebagai solusi atas berbagai penyelewengan di negeri ini. Dunia demontran adalah dunia yang penuh resiko namun dunia yang tak pernah mati atau ditinggalkan zaman. Setiap generasi tumbuh untuk memainkan perannya sesuai dengan momen panggilan zaman, meskipun kadang menjadi tumbal atas perjuangannya. (Identitas. 21 Juni 1996)

Read more...

Kepada Kaum Reformis

By. M. Ishak Zainal

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
(Penggalan lirik lagu Iwan Fals)

KAWAN, penculikan dan kematian mahasiswa mengetuk jendela hatimu. Lalu nurani terpanggil. Engkaupun turun jalan. Berbaur hingga menjadi kekuatan massa. Panji-panji gerakan moral kau lakonkan. Lalu bendera solidaritas sesame mahasiswa kau kibarkan. Engkau mengecam penculikan dan pembunuhan mahasiswa Tri Sakti. Engkau dipersatukan oleh duka : Luka mahasiswa adalah lukamu juga.

Duka menyelimuti hatimu. Duka menghempas ketakutan, menyadarkan alam bawah sadarmu. Keberanianmu pun muncul seiring tak sakralnya lagi arti sebuah ancaman dan resiko. Kesucian idealisme sebagai pemuda-pemudi mahasiswa telah menjadi bendera perjuanganmu. Lalu engkau mengibarkan bendera perjuangan moral. Sejarah telah memanggil. Dan orang-orang harus disadarkan atas hak-hak yang dihisap para penguasa di negeri ini.

Engkau turun jalan, mengemban amanat dan menyuarakan jerit mahluk terluka. Kau bangunkan rakyat dari buaian panjang. Penyelewengan kau kabarkan ke mana-mana. Mereka yang hanya menjadi benalu di negeri ini, serakah, bermental penindas tiba-tiba gematar menghadapimu. Mereka pun ramai-ramai mengganti topeng mereka meski tetap dengan wajah yang sama : Para penindas. Mereka ketakutan lantaran hak-hak rakyat yang mereka tumpuk di rekeningnya akan terbongkar.

Kawan, berbagai ancaman yang membayangi langkahmu rupanya tidak menyurutkan perjuanganmu. Bahkan semakin memperkokoh semangat perlawananmu. Engkau berjuang serentak, bahu membahu dan menjalin solidaritas mahasiswa.

Soeharto pun terpaksa turun dari tahta kepresidenan 21 Mei 1998. Dunia lain khususnya di negara-negara diktator meniru aksi gerakan damai itu. Engkau pun tercatat dalam sejarah reformasi. Secara kolektif engkau adalah pelaku reformasi 98. Perjuanganmu adalah sejarahmu sendiri.

Kehengkanan Soeharto dari kursi kepresidenan meninggalkan kegembiraan dan sorak-sorai di jalan. Air mata haru mengalir sebagai simbol kemenangan. Engkau dan mereka menangis bangga saling berpelukan. Rakyatpun tak luput terharu sebagai ungkapan terima kasih atas upaya dirimu sebagai reformis-reformis muda. Wahai para demonstran, kini kemenangan telah kau raih.

Iya, kemenangan berada di pundakmu. Namun, kemenangan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Lengsernya Soeharto bukan pula simbol berakhirnya perjuangan. Bukan! Genderang reformasi damai pun memanggilmu untuk kau kobarkan di jalan-jalan, di kantor-kantor, sebab perkara di negeri ini belum sepenuhnya tuntas. Masih banyak penyelewengan terselubung yang belum tersinngkap.
***

Kawan, kemenangan dan kekuatan memang telah di pundakmu. Namun jangan lupa, berdiri di atas kemanangan dan memanfaatkan kekuatan bukan tugas ringan. Menghindari dendam sejarah dalam berjuang bukan tugas gampang, meskipun rezim orde baru telah membangun mental-mental pendendam atas saham berbagai penindasannya.

Engkau adalah pejuang moral. Bukan mencontoh Pol Pot di Kamboja sana, membantai dua juta rakyatnya yang antikomunis. Bukan pula mencontoh pelaku orde baru ketika berhasil meruntuhkan kekuasaan orde lama, yang membantai habis komunis atau pun bukan komunis. Mereka yang dinilai sisa komunis dikejar, dilibas bahkan dibantai tanpa melewati proses pengadilan. Engkau orde reformasi. Moral sebagai panglima dan rasioanal adalah wilayah aksi perjuanganmu. Karena itu kawan, pertahankanlah moral perjuanganmu, ketajaman rasionalitas, kesucian dan komitmen atas visi perjuanganmu, sebab itulah yang membuatmu tetap bertahan untuk memberantas berbagai manipulatif di negeri ini.
***
Kawan, sejah lengsernya Soeharto, engkau masih tetap turun pawai mengemban amanat reformasi di tingkat lokal. Di berbagai kantor pun kedatanganmu disambut spanduk besar : Kami Mendukung Reformasi yang Konstitusional. Di balik spanduk, engkau berdiri bagai jaksa-jaksa muda. Berdialog dan menampik mereka, engkau pun menggugat : Di mana para penyeleweng amana rakyat dan paling banyak menanan saham atas hancurnya rakyat dan bangsa ini. Gugatanmu menggema bak penuntut maliakat utusan langit sana.
Di tempat mereka, engkau menagih tanggung-jawab masa lalu mereka. Engkau membuka kotak pengaduan, mengidentifikasi kebenaran issu, engkau lalu memisahkan antara isu dan fakta untuk mencegah para badut-badut politik dan fitnah.

Engkau sungguh bijak, arif menagih tanggung jawab masa lalu mereka melalui jalan kemanusiaan, keadilan dan menyeretnya ke lembaga pengadilan, sesuai sukma dan semangat reformasi itu.

Selamat berjuang kawan dan perjuanganmu adalah pelaksanaan kata-kata. Tetap melangkah berarti engkau bergerak menuju tujuan reformasi itu sendiri. (Identitas, Mei 1998).

Read more...

Kepada Adikku (Keprihatinan di Tengah Ospek)

By. M. Ishak Zainal

DUDUKLAH wahai Adikku. Aku kualunkan gubahanku. Jangan tanya untuk apa, karena ini hanyalah sebuah kegundagulanaan. Jawaban atas kegundahgulanaanku ini hanya kau yang memilikinya. Bukan Aku.

Setiap kali kutatap matamu, terpencar kesedihan dicerminan matamu. Di sana kutemukan wajah-wajah beringas yang selalu saja menusuk sukmamu. Engkau telah diperkenalkan sebentuk kekerasan di tubuhmu. Aku tak tahu semua itu wahai Adikku, apakah ini semacam perkenalan kampus, pendidikan, pengajaran sesat dotrin sesat, salah persepsi, atau malah dendam kusumat turun-temurun. Baca Selengkapnya

Read more...

BJ Habibie

By. M. Ishak Zainal

PRESIDEN BJ Habibi adalah kisah. Di sana kita dapat bercermin tentang demokrasi yang mulai mekar. Berkisah tentang mekarnya kebebasan pers, mendongeng tentang kebebasan intelektual dan menyaksikan komedi politik. Di kisah itu juga kita melihat ketabahan pemimpin dari rentetan hujatan dari segelintir intelektual dan pelaku politik.

Sebagai kisah, pena wartawan mengukir berderet kesalahan Habibie. Tidak hanya di kertas, di layar kaca pun tampak media menjadi mediator dari mulut sejumlah politik dan intelektual untuk menghabisi Habibie. Mulut mereka berbusa-busa dengan urat leher yang begitu tampak menegang. Akal mereka tampak briyan menganalisa, sekaligus mereka menunjukkan ke pemirsa kerendahan budi mereka. Selengkapnya

Read more...

Orang Biasa

by. M. Ishak Zainal

WAHAI, baiknya kita memilih hidup sebagai orang biasa. Orang sederhana. Tak perlu mengetahui strategi politik kotor. Tak perlu merambisi meraih empuknya kedudukan.

Kita perlu menjadi orang biasa. Hidup dengan apa adanya. Berjalan tanpa embel-embel dengan berbagai apologi. Orang biasa hidup dengan cara dan pemikiran sederhana, hidup dengan apa adanya. Beda dengan politikus, hidup abnormal : Strategi politik adalah bagaimana menelikung sesama kita. Padahal orang biasa menganggapnya itu hanyalah kemunafikan. Selengkapnya

Read more...

Tragedi I 24 April 2006 (Penyerbuan Aparat Militer di UMI)

by M. Ishak Zainal

DI Makassar 24 April 2006 ada kesedihan telah tertoreh, juga menumpahkan kesedihan yang sangat. Kehidupan calon intelektual muda termangu di atas duka.

Di depan ribuan mata, mereka mengusung keranda rekannya korban represif aparat keamanan. Mayat itu imbalan atas perjuangan tuntutan penurunan tarif angkutan kota. Tak pelak lagi, Tasrif, M. Syaiful Bya, A. Sultan Iskandar, mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) selaku korban merupakan harga imbalan yang terlampau mahal. Baca selengkapnya

Read more...

Represif (Penyerbuan Militer di Kampus UMI)

by M. Ishak Zainal

CUKUP disayangkan. Sayangnya, kita kadang lupa sejarah dan merenunginya bahwa mengedepankan penanganan senjata, penyerbuan menggunakan panser ke kampus hingga melakukan pembunuhan pada mahasiswa justru akan meningkatkan gelombang aksi

Sayangnya kita lupa pada sejarah, menengok dan merenunginya bahwa di negeri manapun bila segala tuntutan mahasiswa ditangani dengan represif justru akan meningkatkan gelombang aksi.

Sayangnya, kita tidak peka terhadap segala gejala dan keresahan di sekeliling kita. Dan sekali lagi, begitu memilukannya bila aksi kaum muda ditangani represif secara berlebihan. Inilah awalnya ironi suatu bangsa dan duka cita bagi negara.

Tragedi mahasiswa UMI ditengah pemimpin represif ini sungguh teramat sulit diungkip melalui tulisan. Ia hanya bisa digambarkan melakui imajinasi kata-kata. Setidaknya dibalik peristiwa itu, tergambar siapa yang mengorbankan siapa.
***
Mereka para mahasiswa dan mahasiswa di depan kampus mereka, berlari, mengelak, tergeletak bertahan dan mencari ruang perlindungan atas kejaran apara keamanan. Namun seakan tanah mereka tak bertuan lagi karena diserbu para aparat militer yang selama ini dianggap sebagai alat pengayom atau sebagai benteng perlindungan terhadap kebrutalan.

Maka, ada yang ditangkap ada yang menangkap. Ada poporan senjata dan ada yang dipopor. Ada yang terluka dan ada yang melukai. Ada gas air mata dan ada air mata pilu yang bercucuran. Ada yang mengejar dan ada yang mengejar.

Maka, ada yang terdesak dan ada yang mendesak, ada melompat terjun ke sungai dan ada yang diterjungkan ke sungai. Ada yang terpaksa dan ada yang memaksa. Ada yang selamat dan ada yang tak terselamatkan. Ada yang aman dan ada yang diamankan. Ada yang muncul dari sungai dan ada yang dimunculkan. Ada yang hilang dan ada yang dihilangkan. Ada yang tenggelam dan ada yang ditenggelamkan.

Maka ada yang mengapung dan ada yang diapungkan. Ada yang ada dan ada yang mengadakan. Ada yang dikomentari dan ada yang mengomentari. Ada yang ada dan ada yang selalu mengada-ada.

Ada yang meninggal dan ada yang ditinggalkan. Ada mayat dan ada yang diusung. Ada duka dan ada yang mendukai. Ada tangis dan ada yang ditangisi.

Maka, mahasiswa sedih, mahasiswa terluka, mahasiswa berduka, mahasiswa marah. Mereka merasa kehilangan rekan pemilik masa depan bangsanya. Solidaritas aksi berkibar, menyesalkan, mengecam dan mengutuk perlakuan mahasiswa yang tak manusiawi. Mahasiswa berang campur sedih. Mereka sedih tapi marah. Kemarahan mahasiswa bukan lagi tuntutan penurunan biaya tariff angkot, tapi penanganan aparat negara yang represif. Mereka mahasiswa mengutuk segala bentuk kekerasan.

Mahasiswa turun jalan, menggelar aksi duka, mengenang aksi luka. Kesedihan, kepiluan dan kemarahan seakan menyatukan dan mengingatkan romantisme aksi pergerakan kemahasiswaan. Mereka mengibarkan bendera yang sekian lama kusut. Bendera aksi solidaritas sesama mahasiswa. Mereka tak lagi dibatasi tembok-tembok atas nama universitas.

Mereka menantang garang, walau senjata perlawanan mereka adalah semangat, semangat menentang kekerasan dengan cara mereka sendiri. Mereka seakan tak peduli lagi siapa korbannya, apa akibatnya, siapa pelakunya. Mereka hanya mengecam segala bentuk kekerasan dengan cara mereka sendiri. (Penerbitan Kampus Unhas : Identitas April 1996)

Catatan. Tulisan ini adalah tulisan penulis sendiri, sebagai ungkapan duka atas rekan-rekan Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia di Makassar.

Read more...

Apakah Anda Termasuk Kreatif ?

Berdasarkan hasil penelitian para ilmuan di Universitas California di Barkeley, Jika anda memiliki karakteristik sebagai berikut:
Sensitif
Rasa senang akan muncul setelah melihat, mendengar, menyentuh, mengakui adanya suatu ketakutan yang tidak dapat dilihat dan mengakui suatu perbedaan.
Lancar
Tidak pernah kehabisan ide, mengikuti perubahan terus-menerus. Tidak Kaku Punya kemampuan untuk membuat lemon dengan bahan bukan dari “jeruk”, mampu mengubah langkah sial menjadi kesempatan baik dan tidak takut dengan masalah atau rintangan.
Keaslian
Merupakan lawan dari kesesuaian. Orang kreatif akan tetap berjalan mengikuti suara drum yang ditabuh oleh beberapa pembawa drum yang berbeda-beda.
Membuat Lebih Baik Dari Yang Asli
Kemampuan untuk membuat defenisi baru dan merubah bentuk asli ke bentuk baru, mampu menciptakan sesuatu yang beda yang diolah dari bahan-bahan biasa. Analisa Kemampuan untuk membuat suatu “penjelasan yang detail” terhadap suatu ringkasan dan bagaimana supaya segala suatunya tidak saling bertentangan.
Sintesis
Mampu untuk membuat suatu “ringkasan” dari sesuatu penjelasan yang detail dan ini merupakan kebalikan dari analisa.
Kaitannya dengan Organisasi
Mengatur segala sesuatu sehingga semuanya saling menuju ke satu tujuan.
Catatan : Sumber tulisan ini penulis peroleh dari teman di Makassar. Entah sumbernya dari mana. Tapi sepertinya ini menarik buat pembaca. Kalau pun pembaca mengetahui sumbernya dan keberatan mohon disampaikan, agar penulis menghapus tulisan ini.

Read more...

Cara Mengendalikan Waktu Anda

Banyak orang hidupnya kocar-kacir. Mereka menghabiskan waktu yang tidak berkaitan sasarannya. Penyebabnya, karena mereka tidak mengetahui sebenarnya. Baca selanjutnya

Read more...

Antara Cinta dan Nafsu

by. M. Ishak Zainal
Cinta dan birahi adalah satu tapi beda

RINDU kita semakin bergelora. Semakin jauh kita semakin berhasrat kita. Aku sangat memahami kedalaman rindumu, yang kuukur dari gejolak rinduku. Aku memahami kedalaman cintamu yang kuukur dari kekuatan kerinduanmu.
Sungguh kita begitu mudahnya menembus ruang dan waktu. Begitu terbetik di batinmu kurasakan kerinduanmu itu. Bila engkau belum memahaminya, maka bersabarlah, dan tunggulah waktu mengajarimu, bagaimana lintasan dan isyarat hati itu. Baca Selanjutnya

Read more...

Mendaftar di Shvoong

‘Shvoong’ adalah pusat ringkasan tingkat dunia, menawarkan banyak ragam ringkasan dalam 34 bahasa. Tujuan kami adalah meringkas semua yang pernah ditulis sepanjang sejarah manusia dalam bidang sastra dan riset sains, sehingga memberi Anda intisari pengetahuan manusia. Semua ringkasan tersebut ditulis oleh pengguna kami, warga dunia yang tidak hanya menularkan pengetahuan mereka kepada semua orang, tapi juga memperoleh royalti dari kerja mereka. Situs ini bukan bermaksud mengganti hal yang sebenarnya-buku maupun hasil kajian -dengan ringkasan, namun berfungsi sebagai sarana yang membantu Anda berenang
di lautan informasi, memisahkan sekam dari biji padi Mari, baca dan nikmati! Dan dalam waktu yang sama, Mari, tulis dan dapatkan penghasilan!.
Sebelum Anda bergabung, ada beberapa yang diisi yaitu

Masukkan E-mail Anda *:
Pilih password *:
Ketik ulang password *:

  • Pilih nama samaran *:
  • Tanggal Lahir *:
  • Pilih zona waktu Anda *:
    Rincian pembayaran* Anda pilih payment via paypal
    Masukkan kode yang ditunjukkan *:
    Tandai/klik : Saya menerima syarat-syarat perjanjian:
  • Setelah Anda terdaftar, Anda bisa mengedit kembali data diri Anda.
Jika ingin terdaftar dan bergabung dalam komunitas penulis kami silahkan Klik Ingin Bergabung

Sebagai informasi. Beberapa tulisan penulis dapat dilihat di blog ini. Anda bisa langsung terhubung ke shvoong dengan mengklik tulisan baca selanjutnya dalam tulisan penulis. Setelah masuk di shvoong klik foto atau ishak_zainal untuk melihat seluruh tulisan penulis. Kelebihan bergabung dalam komunitas kami, Anda mendapat trik-trik bagaimana menjadikan tulisan paling banyak dicari seperti yang penulis jalani. Bagaiman meringkas atau memilih tema menarik.

Read more...

Pilihan Wisata di Sulsel

Sebelum Anda berwisata sebaiknya Anda menentukan pilihan wisata Anda di Sulsel? Ada deretan tengkorak manusia. Ada perayaan Maulid terbesar dan termegah. Ada permandian air belerang, air terjun. Selengkapnya

Read more...

Penyembuhan Tanpa Obat

Jangan putus asa bila tidak memiliki uang untuk berobat. Ada penyembuhan lebih ampuh dalam diri kita. Hanya saja kita belum mengetahuinya. Selengkapnya

Read more...

Kiat Meresensi dan Meringkas

Untuk menulis resensi dan ringkasan khususnya menulis di shvoong, ada kiatnya. Baca selanjutnya

Read more...

About This Blog

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP